INSPIRATIF, Kepala Bidang Perkebunan Imran Gagas Gerakan Menabung Untuk Pupuk

0
28

LUWU UTARA, CNEWS — Apa yang dilakukan Kepala Bidang Perkebunan Luwu Utara atas nama Ir. Imran ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat lainnya. Bagaimana tidak, pria satu ini menolorkan ide-ide kreatif dan gagasannya dalam membantu petani di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Sepintas apa yang dilakukan oleh Imran memang belum begitu dikenal oleh masyarakat luas, karena memang ia berharap kiprahnya dalam membantu patani bukan karena dimotivasi ingin dikenal atau mendapat pujian, semata-mata karena ingin bersama petani dalam memikirkan kesejahteraan.

Solusi yang digagas oleh Imran adalah dengan membuat gerakan menabung untuk pupuk. Menariknya, cara menabung yang dia lakukan berbeda dengan jamaknya orang lain. Pria yang menetap di Masamba, Luwu Utara ini mengajak masyarakat menabung dengan pupuk. Jadi seperti ini, dengan melibatkan kelompok tani sebagai organisasi tempat berhimpunnya petani yang memiliki kepentingan yang sama yakni petani kakao, tentu saja hanya dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh anggota apabila kelompok mampu hadir memberikan pelayanan terhadap kebutuhan anggotanya.

Menurut Imran, idealnya kelompok dapat melayani kebutuhan pupuk anggotanya apabila setiap anggota memiliki simpanan dikelompoknya sebesar Rp 1 juta rupiah per anggota. Karena itulah perlunya gerakan menabung untuk pupuk, dikarenakan gerakan menabung ini baru merupakan tahap awal, maka dalam pelatihan kelompok tani seperti yang dilaskanakan pada tahun 2015 peserta diajak untuk berpatisipasi memulai gerakan menabung untuk pupuk sebesar Rp 200.000 per anggota, nantinya secara bertahap setiap anggota dapat mencukupkan tabungannya menjadi Rp 1 juta.

Dana sebesar Rp 200.000 yang dikumpulkan oleh setiap anggota yang berasal dari penyisihan sebagian dana transport dan uang saku selama 3 hari dari kegiatan pelatihan dihimpun pada kelompok tani masing-masing untuk selanjutnya dikelola menjadi dana anggota kelompok tani.

Dikatakan Imran, agar pelaksana tidak terjebak kedalam proses hukum akibat inisiatif gerakan menabung untuk pupuk ini, maka dana yang terakumulasi tidak boleh dipegang oleh siapapun selain tersimpan dalam rekening kelompoknya sendiri sebelum digerakan sebagai modal usaha. Dan karena dengan kekuatan Rp 200.000 per orang masih sangat kecil, maka untuk mendapatkan kekuatan itu kelompok dapat difasilitasi untuk menghimpun kekuatannya dibawah naungan koperasi kabupaten. Nanti setelah koperasi tani kabupaten dalam hal ini Koperasi Tani Multijasatani memiliki kesepakatan pengadaan pupuk dengan produsen dan telah meminta pembayaran, baru kemudian dana dari masing-masing rekening kelompok ini dapat diakumulasikan bersama minimal 200 kelompok tani lainnya kedalam koperasi kabupaten sebagai dana penyertaan petani/kelompok tani namun sebelum itu harus ada kesepakatan tertulis antara kelompok tani dan koperasi dan harus ada bukti yang dipegang oleh kedua belah pihak.

Oleh karena itu, setiap kelompok yang beranggotakan 25 orang yang telah menyetorkan dana penyertaannya sebesar Rp.5.000.000 kedalam koperasi berhak memegang sertifikat saham koperasi. Sertifikat saham koperasi tersebut harus disimpan baik-baik oleh kelompok tani sebagai bukti keikut sertaan pemodalan kelompoknya dalam usaha koperasi.

Pada akhir tahun koperasi harus mengundang seluruh kelompok tani pemegang sahamnya dalam rapat tahunan anggota untuk menentukan besaran SHU koperasi yang akan diteruskan kepada kelompok pemegang saham.

Mengenai usaha Koperasi Multijasatani berdasarkan informasi pengurus dan hasil peninjauan secara berulang, saat ini telah bergerak dalam usaha jual beli kakao biji kering. Namun demikian dana penyertaan petani untuk sementara tidak boleh dilibatkan dalam usaha jual beli cokelat karena rentan terhadap resiko kerugian. Dan usaha yang sementara ini dianggap aman dari resiko kerugian yakni distribusi pupuk segmen NPK formula khusus non-subsidi.

Dana petani yang telah terakumulasi boleh digerakan oleh koperasi untuk pengadaan pupuk NPK formula khusus. Namun agar lebih efesien koperasi sebaiknya mendatangkan pupuk langsung dari produsen kemudian disalurkan kepada petani dalam bentuk kredit lepas panen.

Agar supaya koperasi terhindar dari resiko gagal bayar dari pupuk yang telah disalurkan nantinya maka koperasi sebaiknya membuat perjanjian tersendiri  dengan seluruh petani yang mendapatkan pupuk kredit lepas panen agar supaya menjual biji hasil panennya kepada koperasi dalam bentuk biji kering. Dari harga inilah nantinya kredit pupuk anggota dipungut pembayarannya secara bertahap sesuai dengan besaran harga yang diterimanya. Mekanisme ini diterapkan dalam rangka mengantisipasi resiko gagal bayar dari para anggota yang telah menerima pupuk.

Jika koperasi ini dijalankan dengan baik oleh koperasi multi jasa tani dan memang seperti itulah harapan pemerintah dan petani juga berkomitmen tinggi terhadap koperasinya, maka dapat dipastikan bahwa kelompok tani yang bergabung dan bekerjasama dengan koperasi dapat melayani berbagai kebutuhan anggotanya tanpa perlu selalui mengharapokan bantuan dari pemerintah. (frans)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here