Mengenal Lebih Dekat Sosok IR IMRAN, Kabid Perkebunan Dishutbun Kabupaten Luwu Utara

0
2

KETERANGAN GAMBAR :

Kepala Bidang Perkebunan Dishutbun Kabupaten Luwu Utara, Ir Imran (pakai kacamata) bersama panitia dan wakil petani pada sebuah Konferensi Pers yang menyampaikan suara kritis petani dihadapan awak puluhan media dalam dan luar negeri di Jakarta beberapa waktu lalu.

 

 

 

Dikalangan pelaku kakao, Imran Kabid Perkebunan Luwu Utara sosok yang cukup dikenal. Imran merupakan salah satu pelopor agar tanaman kakao unggul asal luwu utara dikenal di seluruh indonesia. Sebelumnya kakao jenis M 45 hanya digunakan di luwu utara dan sekitarnya. Namun atas upayanya memperkenalkan klon ini maka kementrian pertanian memberikan pengakuan atas tanaman asal luwu utara ini dengan nama MCC 02 yang tidak lain singkatan dari Masamba Cocoa Clone seri 02.

Imran juga dikenal sebagai salah satu penggagas gerakan kampoong kakao yang saat ini sudah terbangun seluas 100 ha di desa Batu alang Kec. Sabbang. Pengembangan kampoong kakao ini juga melibatkan berbagai instansi antara lain unsur TNI (Babinsa), Perguruan Tinggi dan dikegiatan lainnya bahkan melibatkan kepolisian, LSM, Kejaksaan sebagai tim pengawalan. Program kampoong kakao sendiri terdiri atas pendampingan petani, gerakan perawatan kebun masal, serta pembinaan petani terkait budidaya dan pasca panen. Dampaknya beberapa petani yang kebunnya menjadi bagian dari kawasan ini sukses meraih produksi hingga 3 ton/ha/tahun.

Ia juga dikenal sebagai tokoh yang mendorong petani melakukan fermentasi dan menentang upaya beberapa pihak pembeli mengangkut biji kakao basah petani keluar dari luwu utara. Untuk memberi insentif petani untuk melakukan perbaikan mutu serta berupaya mendatangkan pembeli dari luar negeri sampai akhirnya imran berhasil menarik mitra salah satunya PT Moluccas dari Amerika Serikat dan Perusahaan asal Italia juga menjajaki peluang membeli biji dari luwu utara dengan harga menarik.

Atas kiprahnya dalam mengembangkan kakao rakyat sejumlah pihak dari wilayah di indonesia telah meminta jasanya untuk mengembangkan kakao di kalimantan selatan, aceh, yang saat ini tengah dalam proses persiapan. Dan juga menjadi pembicara tingkat nasional terkait kakao dimana salah satunya Ir.Imran mewakili Luwu Utara untuk menjadi narasumber pada konfeerensi Pers yang menyampaikan suara petani kepada masyarakat luas.

Ia juga mencetus ide Cocoa Brotherhood, yang memungkinkan para pecinta coklat diluar negeri mendonasikan dananya untuk membantu petani di Luwu Utara. Dengan konsep ini seorang petani coklat dapat ikut membangun kebun di sentra produksi. Cocoa Brotherhood dibangun berbasis online, dimana untuk setiap kakao yang ditanam melalui kegiatan ini akan diberikan Plank nama si donatur dan ditampilkan melalui website. Saat ini konsep ini masih digodok bersama pelaku kakao yang berdomisili di Jakarta dan Surabaya.

Imran sang Kabid Perkebunan juga berusaha mendorong petani untuk memiliki organisasi yakni forum komunikasi petani, Assoasi Penangkar Kakao, koperasi petani kakao di beberapa Kecamatan dengan visi membeli saprodi lebih murah, menjual hasil lebih mahal,. Atas motivasinya petani bergabung dalam sebuah koperasi berhasil mendapatkan pasar yang lebih baik di Makassar dan perna memasok ke Bumi Tangerang dalam bentuk biji Fermentasi. Namun akhirnya upaya mendorong petani membangun kelembagaan. Dan sarannya untuk menjadikan dana bantuan pusat, berupa honor, menjadi dana penguatan koperasi dalam upaya mendapatkan kredit di Bank untuk pembelian Pupuk pada tahun selanjutnya berujung buruk. Meskipun dana tersebut masih tersimpan rapih di rekening koperasi dirinya dianggap telah melakukan penyimpangan uang negara. Padahal ini terobosan agar petani bisa mendapatkan pupuk, karena bantuan pusat hanya satu tahun.
Tapi barangkali inilah akhir daripada kiprah sang kabid dalam pemberdayaan petani dan pengembangkan kakao Luwu Utara. (adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here