Idrus Marham Marah Besar Disebut Biang Kerok Masalah Golkar Sulsel

0
6

MAKASSAR – Tensi politik di internal Golkar Sulsel semakin memanas, saling tuding pun terjadi sesama kader. Pemicu awalnya, setelah Sekretaris Jenderal (Sekjen) Idrus Marham yang menyebutkan, selama satu periode (lima tahun) Syahrul Yasin Limpo (SYL) memimpin Golkar Sulsel dinilai gagal.

Pernyataan Idrus Marham dibalas salah seorang pengurus Golkar Sulsel, Ian Latanro yang menyebutkan, biang kehancuran Golkar Sulsel akibat ulah Idrus Marham dan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD I Golkar Sulsel Nurdin Halid (NH).

Pernyataan Ian Latanro, ternyata membuat Idrus Marhan marah besar. Menurutnya, kader yang menyebutnya seperti itu adalah kader baru yang tidak mengetahui sebab musabab persoalan di internal Golkar.

“Kalau tidak tahu persoalan, belum memahami luar dalamnya partai Golkar, jangan asal mengeluarkan pernyataan di media, pelajari dulu personal di Golkar,” ujar Idrus dengan nada keras, melalui sambungan telepon, Minggu 17 Oktober 2016.

Ia membantah, merosotnya prolehan suara Golkar Sulsel akibat ulah Idrus Marham dan Nurdin Halid melalui kebijakannya di pusat. Ia mengatakan tidak serta merta mengambil kebijakan.

“Jangan mengira saya ini Sekjen, lalu saya seenaknya mengambil kebijakan, tidak begitu. Adik saya yang miliki peluang maju Pileg dan Pilkada, justru saya tolak dan saya berikan rekomendasi ke orang lain. Bahkan pada Pileg 2004 saya diminta untuk maju sebagai calon DPR RI, saya menolak dan memilih mengurusi partai,” ungkap pria kelahiran Pinrang ini.

Seperti diketahui, sebelumnya Idrus mengatakan, kegagalan SYL terjadi di beberapa momen politik, salah satunya pada pemilu 2014 lalu. Di sini, Golkar  gagal merebut pimpinan DPRD di 24 kabupaten/kota, bahkan berkurang.

“Periode ini hanya 16 dari 24 kabupaten/kota, kader jadi ketua DPRD. Periode sebelumnya itu 23 ketua DPRD, cuma Sinjai bukan Golkar pada waktu itu,” kata Idrus di Makassar, Jumat 14 Oktober 2016.

Kegagalan SYL juga terjadi pada tingkat provinsi. Sejumlah 18 kursi Golkar dan keberhasilan mempertahankan kursi Ketua DPRD dinilai belumlah cukup. “Provinsi juga kursinya turun. Memang tetap 18 kursi tetapi ada penambahan dari 75 jadi 85 kursi. Ke depan semua daerah harus ketua,” tegas Idrus.

Selain itu, SYL juga gagal di Pilkada 11 kabupaten pada 2015 lalu. Golkar hanya menang di tiga kabupaten, Pangkep, Soppeng, dan Gowa. “Harusnya setengah dari itu Golkar menang, tetapi hanya tiga daerah menangkan usungannya Golkar,” ungkapnya.

Oleh karena itu, atas kegagalan tersebut menjadi alasan DPP Golkar untuk menunjuk Nurdin Plt Ketua DPD I Golkar Sulsel menggantikan SYL.

“Kita menyerahkan sepenuhnya kepada Nurdin untuk memperbaiki struktur kepengurusan dari tingkat ranting hingga atas. Tujuannya agar Golkar ke depan bisa menang di Pilkada, Pileg, dan Pilpres,” ungkap Idrus.

Kepemimpinan baru Golkar Sulsel di bawah kendali Nurdin diyakini mampu mengembalikan kejayaan Golkar di Sulsel. Nurdin dianggap seorang aktivis yang telah melewati proses panjang dan memiliki pengalaman.

Menanggapi pernyataan Idrus yang menyebutkan selama satu periode Syahrul Yasin Limpo (SYL) memimpin Golkar Sulsel dinilai gagal, menjadikan alasan DPP menunjuk Nurdin sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD I Golkar Sulsel menggantikan SYL.

Pernyataan Idrus Marham tersebut mendapat respons balik dari kader Golkar Sulsel. Salah satunya adalah pengurus transisi DPD Golkar Sulsel, Ian Latanro.

Menurut Ian merosotnya Golkar Sulsel akibat dari ulah Idrus dan Nurdin melalui kebijakannya di pusat.

“Silakan saja Sekjen dan Plt Ketua Golkar Sulsel melakukan konsolidasi Golkar Sulsel. Tetapi tidak mesti bicara terlalu jauh seakan-akan selama ini Golkar Sulsel tidak bikin apa-apa dan cenderung merosot. Sudah hebat sekali ini Golkar Sulsel karena bisa bertahan dari gempuran dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap perilaku elite Golkar di pusat,” kata Ian melalui sambungan telepon, Minggu 16 Oktober 2016.

Ia mengatakan, selama ini banyak kebijakan DPP di Sulsel yang berlawanan dengan keinginan kader dan pengurus Golkar Sulsel.

“Contohnya, penentuan caleg yang lebih mementingkan orang yang tidak kapabel dalam mendulang suara, ketimbang orang-orang potensial untuk mendulang suara,” jelasnya.

Ia mencontohkan bagaimana, DPP tidak mengakomodir Fatmawati Rusdi Masse, La Tinro La Tunrung, Luthfi Andi Mutty, Azikin Solthan, dan beberapa nama potensial lainnya.

“Mereka terabaikan dan dibuang di Golkar hanya untuk mengakomodir orang-orang yang dekat dengan Sekjen dan NH, faktanya tidak punya hasil,” sesalnya.

Belum lagi, kata Ian, penentuan calon usungan Golkar di pilkada semua atas keinginan Sekjen.

“Contohnya di Pinrang, orang sudah deklarasi dengan petahana di KPU, ternyata keluar rekomendasi DPP untuk orang lain dan hasilnya kalah. Ini sedikit contoh dari sekian banyak masalah Golkar yang dikirim Idrus ke Sulsel,” jelas Ian, demikian dilansir oleh salah satu media online. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here