SUBHANALLAH….. Kakek Nasrani di Mesir jadi Guru Ngaji, Ajari Bocah Muslim Baca Alquran Selama 50 Tahun

0
63

foto :Kakek Nasrani Mesir Iyad Shaker Hana yang telah mengajar anak-anak Mesir di kota Minya selama 50 tahun./INT

 

MESIR – Di tengah pergolakan perbedaan agama yang terjadi di dunia, ternyata ada kakek Nasrani di Mesir yang mengajarkan bocah-bocah muslim membaca Alquran.

Dia adalah Iyad Shaker Hana yang telah mengajar anak-anak Mesir di kota Minya selama 50 tahun. Berita Iyad yang pertama kali di publis oleh BBC Arabic langsung menjadi viral dan mendapatkan banyak tanggapan dari para netizen.

“Tanyalah orang-orang tua, dan para Sheikh, serta kaum muslim di wilayah ini, apakah mereka kenal Iyad. Mereka akan menjawab, ‘kenal, ia telah mengajarkan aku, anak-anak perempuanku dan istriku,” kata Iyad yang dikutip dari egyptianstreet.

“Aku telah mengajar lebih dari 50 tahun. Murid-muridku sudah pada dewasa, menikah dan membawa anak-anak mereka ke sini untuk belajar denganku,” lanjutnya.

“Waktu aku mulai pertama kali mengajar, ada 20 hingga 30 murid muslim dan sekitar lima atau 6 nasrani. Mereka belajar di sini. Dan sekarang, lebih dari 120 keluarga semua belajar di sini,” tambahnya.

“Ada sekitar 70 hingga 80 murid Muslim dan 30 hingga 40 kristen,” kata Iyad sambil menambahkan semua murid yang belajar dengannya butuh restu dari orangtua mereka.

Terkait dirinya yang mengajarkan baca Alquran pada bocah muslim Mesir, Iyad mengatakan ia hanya mengajarkan cara membaca, melagukannya, dan memastikan mereka mengeja dengan benar.

“Aku melakukan hal yang sama bagi pemeluk Kristiani ketika belajar Gospel dan ayat di Alkitab,” katanya.

Untuk belajar dengan Iyad, para orangtua mengeluarkan uang 10 pound sterling Mesir per bulan. Tapi, jika mereka tak mampu, pria itu membebaskan uang bayaran itu.

“Aku lebih senang dibayar 10 pound dengan cinta dibanding ratusan pound tapi penuh kebencian dan kesedihan,” terang Iyad.

Mengajar adalah panggilan jiwanya. Sang ayah, juga seorang pengajar di gereja ortodoks di kampung. Setelah lulus SMA, Iyad fokus belajar bahasa Inggris. Ia seharusnya mengajar di sebuah sekolah, tapi terlalu jauh dari rumahnya.

Sementara sang ayah jatuh sakit, dan memberi wejangan kepadanya, “hanya ada tiga orang di desa ini yang tahu baca tulis, aku, kamu dan ibumu…” Itulah yang membuat Iyad bertekad mendirikan ‘kottab’ atau kelas kecil di gereja.

Kisah Iyad sendiri bermula pada tahun 1948, ketika seorang bocah datang kepadanya. Ia ingin belajar baca Alquran tapi tak mengerti cara membacanya.

Bermodal kemampuannya sastra Arab, ia mencoba mengajarkan kitab suci itu berdasarkan bahasa dan konsep. Saat itu, di kampungnya, hubungan umat Kristen-Islam sangat harmonis.

“Namun, seiring dengan perkembangan dunia, isu kedua agama itu menjadi sensitif,” kata Iyad.

Ia ingat ketika mengajarkan seorang imam dari Mekah, Ahmed el Gergawy di desa itu. Awalnya, ia enggan anak perempuannya diajarkan baca Alquran oleh Iyad, namun sang anak lebih paham mengerti kitab suci ketika diajarkan Iyad.

“Ia membawakanku Alquran dari Mekah sebagai ucapan terima kasih,” tutup Iyad. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here