Diduga Alami Kekerasan Fisik, Taruna Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Makassar Meninggal

0
146

Keluarga menyakini ada yang tak wajar dengan kematian Ari Pratama (20), taruna Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar yang berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan. Korban diketahui ditemukan tewas tenggelam di kolam renang Brigade Infanteri (Brigif) Linud III TBS/Kostrad, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulsel Sabtu, 19 November 2016.

Kejanggalan yang dirasakan keluarga lantaran di tubuh jenazah ditemukan bekas lebam.

“Iya surat pihak keluarga korban atas nama Gunawan, orang tua dari Ari Pratama kita terima 22 Desember 2016 lalu, limpahan dari Polrestabes Makassar karena locus delicty-nya di wilayah hukum Polres Maros,” kata Kasat Reskrim Polres Maros AKP Jufri Natsir, Selasa (17/1).

Poin penting dalam surat tersebut, bekas lebam di perut taruna angkatan 2015 asal Kabupaten Trenggalek itu menjadi dasar bagi keluarga untuk mempertanyakan kematian Ari. Keluarga menduga telah terjadi kekerasan fisik sebelum Ari meninggal.

Kasat Reskrim Polres Maros ini menjelaskan kronologi kejadian. Pada 19 November 2016, taruna diberi izin bermalam di luar. Ari bersama sembilan orang rekannya sesama taruna memanfaatkan kesempatan itu dengan berenang di kolam renang Tirta Yuda dalam kawasan markas Brigif Linud III TBS/ Kostrad, pukul 14.00 WITA.

Pukul 17.00 WITA, delapan rekannya turun berenang namun yang bersangkutan menolak saat diajak turun ke kolam dengan alasan kurang enak badan karena demam. Ari memilih bersantai di dalam ruangan di sisi kolam bersama salah seorang rekannya yang juga tidak ikut berenang. Tak lama kemudian, dua rekannya yang semula berenang naik ke bibir kolam dan menuju mini market untuk membeli minuman bersama seorang rekan taruna lain yang tadinya juga tidak turut berenang.

“15 menit kemudian pengunjung kolam renang ribut-ribut melihat ada orang tenggelam di dalam kolam yang ternyata Ari Pratama,” kata AKP Jufri Natsir.

Penyidik Polres Maros memeriksa sejumlah taruna. Selain itu penyidik juga mendatangi kolam renang Tirta Yuda dan indekos korban.

“Baru dua taruna seangkatan korban yang sudah diambil keterangannya. Selanjutnya menyusul tujuh taruna lagi akan diambil keterangannya secara maraton. Juga kita akan ambil keterangan penjaga kolam,” terang Jufri.

Diungkapnya, saat jenazah dikirim ke Trenggalek, belum ada lebam. Namun berdasarkan bukti foto yang dikirim keluarga korban menunjukkan ada lebam itu.

“Kita akan selidiki penyebab lebam itu yang oleh keluarga korban menduga kalau lebam tersebut karena adanya benturan atau kekerasan,” lanjutnya seraya menambahkan, hasil penelitian tim Labfor nantinya yang akan menentukan penyebab kematian korban.

Sementara itu, Kepala Urusan Rumah Tangga ATKP Makassar Muhammadong mengatakan dia pertama kali dihubungi penjaga kolam renang saat kejadian. Dia langsung menuju Mako Kostrad di saat korban Ari Pratama sudah berada di klinik Kostrad.

“Saat itu tidak terlihat lebam atau sejenisnya di tubuh korban. Dari klinik, jenazah korban kemudian dievakuasi ke kampus. Saat menyampaikan kabar kematian Ari Pratama dan menawarkan autopsi jika ingin memastikan penyebab kematian putranya, keluarga Ari Pratama menolak. Jenazah kemudian diterbangkan ke Trenggalek setelah disuntik formalin sebagai syarat penerbangan jenazah tanpa dimandikan dan disalati sesuai permintaan keluarga,” jelas Muhammadong.

Ditegaskan, korban dan rekan-rekannya mengisi akhir pekannya saat itu bukan bagian dari kurikulum atau kegiatan kampus, karena mereka memanfaatkan izin bermalam di luar atau IBL. (mrd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here