ULP Dinilai Masih “Main Mata” Dengan Rekanan

0
1

PAREPARE—-Dugaan pengaturan pemenang tender proyek di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Bagian Pembangunan Pemerintah Kota (Pemkot) Parepare kembali mencuat ke permukaan.

Sebelumnya, dugaan kasus pengaturan pemenang tender proyek rehabilitasi UPTD RS Kusta Lauleng Tahun Anggaran 2016 dibatalkan lantaran salah seorang rekanan peserta lelang keberatan dan melakukan gugatan terhadap Pemkot ke Pengadilan Negeri Parepare.

Tahun ini, kasus serupa kembali diduga terjadi di ULP Parepare. Hal tersebut diungkapkan Ketua LSM Incare, Andi Ilham, Jumat (21/7/2017).

Dikatakannya, perjalanan lelang proyek di ULP Parepare tahun ini sudah menunjukkan gejala negatif. Ia menyebut, dugaan praktik kongkalikong terhadap tender proyek tahun ini mulai tercium aromanya, merebak, menyebar dan menyengat. “Pada tender pembangunan Gedung Radiologi RSUD Andi Makkasau Parepare, diduga kuat ULP melakukan ‘pengaturan’ dan sengaja memenangkan CV Fajar Mandiri,” ucapnya.

Ia menjelaskan, pada tender pembangunan Gedung Radiologi RSUD Andi Makkasau Parepare, nilai HPS-nya sebesar Rp. 1.553.380.000. Nilai penawaran pertama Rp. 1.550.500.000. Sementara peserta lelang dengan penawar terendah CV Mahakarya Rp. 1.445.200.000 digugurkan dengan alasan tidak memiliki pengalaman pekerjaan sesuai dengan dokumen lelang.

Alasan pengguguran itu, kata dia, bertentangan dengan ketentuan yang dipersyaratkan pada dokumen lelang, dimana perusahaan yang seharusnya memenangkan lelang memiliki pengalaman pekerjaan sejenis minimal 1 pekerjaan dalam kurun waktu 4 tahun, terkecuali bagi perusahaan yang baru berumur kurang dari 3 tahun tidak diwajibkan. “Artinya, alasan pengguguran itu tidak rasional karena CV Mahakarya dibuat tahun 2015, belum genap 3 tahun,” jelasnya.

Ironinya, CV Mahakarya yang sudah jelas menawar pertama paling rendah Rp. 1.445.200.000 harus digugurkan ULP dengan melakukan koreksi aritmetik sehingga CV Fajar Mandiri dengan nilai penawaran pertama Rp. 1.550.500.000 dimenangkan dengan nilai terkoreksi Rp. 1.431.400.000.

Salah satu modus yang dilakukan ULP, kata dia, adalah dengan menambah waktu evaluasi dan dilakukannya koreksi aritmetik pada penawaran pihak rekanab yang diduga akan dimenangkan. “Sementara perusahaan yang memiliki penawaran terendah awal digugurkan dengan alasan tidak rasional,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua ULP Bagian Pembangunan Pemkot Parepare, Zulkarnain enggan berkomentar terkait dugaan pengaturan pemenang tender di ULP. “Mohon maaf pak saya lagi diluar,” singkat Zulkarnai lalu menutup telepon sellulernya. (Effendy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here