Kinerja PPL dan Dinas Pertanian Disorot, Program Pembinaan Petani Kakao Hanya Sebatas Pemanis

0
67

LUWU UTARA, CNEWS — Siapa bilang program Dinas Pertanian dan kinerja PPL di Luwu Utara sudah berjalan dengan optimal selama ini. Tidak tanggung-tanggung sejumlah petani kakao di Desa Buangin, Kecamatan Sabbang justru menebang pohon kakao mereka karena tidak produktif lagi.

Di Desa Buangin petani masih mengandalkan pola konnvensional. Tenaga PPL yang berasal dari Dinas Pertanian juga selama ini dinilai tidak merata memberikan penyuluhan kepada pertanian sehingga warga tidak mendapatkan bimbingan.

Di Luwu Utara, anggaran untuk penyuluhan ini terbilang cukup fantastis. Namun, sebaliknya apa yang diharapkan masyarakat masih jauh dari harapan. Program Dinas Pertanian membantu para petani boleh dibilang masih sebatas pemanis. Faktanya, petani di Desa Buangin ini menjerit melihat hasil kebun mereka tidak bisa dinikmati.

Lantas memang cukup seriuskan Dinas Pertanian Luwu Utara membantu para petani, jawabannya, bukti pembuktian dan ini tidak boleh dibiarkan masyarakat terkungkung dengan kondisi seperti ini.

Potret masyarakat Desa Buangin harus segera mendapat perhatian dan solusi, Dinas Pertanian tidak boleh ‘tutup mata’ dan keberadaan PPL harus dievauluasi bila memang tidak bisa bekerja dengan optimal.

Masalah petani Kakao di Desa Buangin selain pohon kakao mereka sulit berbuah, belakangan ini penyakit juga turut menyerang tanaman kakao. Hal ini membuat petani kakao di Desa Buangin dibuat kelimpungan. Karena diserang penyakit, mengakibatkan sejumnlah tanaman kakao meranggas.

Sejumlah petani kakao, Selasa (13/2/2018) mengatakan serangan penyakit membuat tanaman kakao mati, sudah mulai dirasakan petani sejak awal tahun. Demikian juga akibat serangan penyakit membuat produksi kakao anjlok.

Hampir setiap lahan petani berisi tanaman kakao, mengalami kondisi tersebut. Samsir seorang petani kakao mengatakan penyakit tersebut ditandai dengan pucuk daun kakao terlihat layu, kemudian menjalar ke seluruh cabang, hingga batang pohon. Akibatnya seluruh pohon terlihat hangus terbakar.

Petani yang mengaku memiliki garapan kebub kakao ini menjelaskan serangan penyakit ini sudah dirasakan sejak awal tahun. Parahnya, penyakit ini tidak hanya menyerang tanaman kakao yang sudah berbuah yang baru belajar berbuah juga ikut diserang.

Bahkan upaya penyemprotan dengan berbagai insektisida tidak membuahkan hasil. Kendati sudah berulang kali disemprot, termasuk memangkas batang yang rusak, tetap saja tanaman kakao menjadi mati.

Dampak serangan penyakit ini, membuat produksi kakao merosot. “Di sini sebagian besar petani, menghandalkan buah kakao sebagai penghasilan harian, biasanya mereka sekali ke kebun, bisa mendapat panen biji kakao basah cukup lumayan, sekarang paling turun drastis dan itupun harus memilih karena biji kakao juga menghitam,” kata Samsir.

Para petani berharap dari petugas pertanian turun untuk memastikan apa sebenarnya penyakit yang menyerang tanaman kakao di Desa Buangin tersebut, sehingga segera bisa teratasi. (LAPORAN : SAMSIR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here