Lakkang, Pulau Tersembunyi di Makassar dengan Bungker Berusia Ratusan Tahun

0
64

MAKASSAR — Sebuah pulau kecil terdapat di tengah Kota Makassar, tepatnya di Kecamatan Tallo, seperti tersembunyi dari pandangan umum. Pulau Lakkang, namanya, memiliki cerita tersendiri sejak sejarah penjajahan Belanda hingga kini.

Pulau Lakkang yang memiliki luas sekitar 300 hektar ini diapit oleh tiga sungai, yakni Sungai Tallo, Sungai Pampang, dan Sungai Universitas Hasanuddin (Unhas).

Ketiga sungai ini membuat Pulau Lakkang terkesan tak terlihat dan jarang diketahui oleh masyarakat umum Kota Makassar. Untuk sampai di Pulau Lakkang, pengunjung bisa memilih memulai perjalanan di beberapa dermaga, yaitu dermaga belakang kampus Unhas, dermaga samping Tol IR Sutami, dermaga di Kelurahan Pampang dan dermaga di Kelurahan Tallo.

Pengunjung bisa menumpang perahu yang dapat memuat sekitar 20 orang dan 5 unit motor. Tarifnya pun terbilang murah dengan harga Rp 3.000 per kepala dan tarif angkut motor Rp 5.000. Lama tempuh perjalanan adalah 15 menit-30 menit menelusuri sungai besar dengan hutan-hutan bakau dan nipa-nipa.

Setibanya di Pulau Lakkang yang sudah dinyatakan sebagai kelurahan di Kecamatan Tallo ini, pengunjung disambut rumah asli penduduk berbentuk rumah panggung. Pulau ini berpenduduk sekitar 300 kepala keluarga.

Warga setempat juga sangat ramah dengan para pendatang. Saat ditanyakan lokasi bungker peninggalan Jepang, warga langsung menunjukkan suatu tempat yang terletak di tengah pulau.

Suasananya adalah hutan pohon bambu. bungker peninggalan Jepang itu pun tak terawat. Bagian atasnya terdapat banyak tumpukan sampah.

Tak ada pagar mengelilingi lokasi bungker, tak ada pula papan bicara sebagai situs sejarah. Saat ditanyakan lokasi bungker lain, ternyata diketahui ada beberapa buah bungker besar yang tidak terawat dan bahkan sudah rusak.

Ada bungker besar yang berada di samping rumah penduduk yang di atasnya dipenuhi gundukan sampah, ada pula bungker yang berada di belakang rumah warga yang sempat dijadikan tempat pembuangan tinja (septictank).

Beberapa bungker yang sempat dikunjungi pun sudah dalam keadaan rusak karena sebagian warga mengaku sengaja ditutup atau ditimbun agar tidak berbahaya bagi anak-anak di Pulau Lakkang.

Seorang kakek bernama Haji Dorahi (56) mengungkapkan, bungker tersebut telah ada sejak dia masih kecil. Saat itu, menurut dia, Jepang membuat bungker tersebut sebagai tempat persembunyian bersama warga Lakkang dari gempuran tentara penjajah Belanda dari udara.
“Waktu kecil, biasa saya bersama warga Pulau Lakkang dibawa masuk ke dalam bungker itu oleh Jepang untuk bersembunyi. Ada banyak bungker besar di sini yang katanya saling menyambung,” ungkapnya.
Saat ditanya berapa jumlah bungker di Pulau Lakkang, Haji Dohari mengaku tidak mengetahui pasti. Namun dia menuturkan, ada sebagian bungker yang sudah ditutup oleh warga karena takut dijadikan tempat bersarang ular besar.
“Masih ada yang belum ditutup dan ada juga yang sudah ditutup atau ditimbun warga. Karena takut anak-anak mereka masuk ke dalam bungker bermain dan tidak diketahui apa yang ada di dalamnya. Jangan sampai ada ular besar di dalam bungker bersarang,” ungkapnya.  (kmp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here