Komisi D DPRD Makassar Soroti Belajar via Daring, Cenderung Turunkan Kompetensi Siswa

0
2

MAKASSAR — Pembelajaran secara daring masih menjadi opsi di tengah pandemi Covid-19. Kendati sejumlah pihak menilai metode pembelajaran tersebut kurang efektif.

Anggota Komisi D Bidang Kesejahteraan Rakyat DPRD Kota Makassar, Al Hidayat Syamsu menilai kecenderungan belajar via daring berpotensi menurunkan tingkat kompetensi belajar siswa.

Pasalnya, kata dia, belajar tatap muka dan daring punya perbedaan yang sangat jauh.

“Responsibility pemerintah itu terkait efektifitas dan efesiensi dari modifikasi pembelajaran di sekolah masing-masing by online, intinya itu aja, ada tanggung jawab di sekolah masing-masing. Jangan sampai dia udah naik ke kelas dua, sementara pembelajaran kelas satu dia tidak kuasai alias ketinggalan mata pelajaran,” ujar legislator PDIP tersebut, Rabu, 21 Oktober 2020.

Alhasil, metode ini menjadi tidak optimal dan tidak sampai ke masing-masing siswa.

Al Hidayat mengaku menerima cukup banyak laporan masyarakat yang mengeluhkan hal ini.

Menurutnya, jika disdik masih tidak bisa menyelenggarakan pembelajaran tatap muka maka konsekuensinya pembeelajaran daring harus bisa berjalan optimal.

“Kan ada dua pilihan, kembali ke sekolah ada resiko besar, tapi kan dia tidak mau ambil, berarti dia ambil yang sedikit resikonya, tapi apakah dia paham bahwa dari sisi kompetensi justru itu yang paling besar resikonya,” katanya.

Legislator dari PDIP itu mengatakan bahwa bonus demografi yang diperoleh Indonesia saat ini sangat membutuhkan kompetensi dasar yang harus digembleng dari sekarang.

Jika ada kendala pada pembelajaran, kata Hidayat, maka bonus demografi tidak akan berjalan optimal di kemudian hari.

“Nah inilah tugas dinas pendidikan, bersama organisasi-organisasi pendidikan itu memikirkan hal yang seperti ini,” ujarnya.

Dia pun meminta agar tiap sekolah memanfaatkan anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk meningkatkan sistem daring apalagi telah ada instruksi langsung dari pusat guna pemanfaatan anggaran tersebut.

“Inikan sudah jalan untuk manfaatkan anggaran ini (BOS) untuk kepentingan Covid-19 jadi, ini masih ada sekolah yang nda berani, pakai saja misalnya untuk tambah pemebeli kuota untuk siswa, ini jadi pertanyaan justru, kenapa masih ada sekolah yang tidak membelanjakan seperti itu,” tuturnya.

Meski penggunaan dana BOS masing-masing berbeda, namun sejumlah sekolah telah memanfaatkan hal ini untuk meningkatkan sarana dan prasarana untuk mendukung pemebelajaran daring, salah satunya dengan pengadaan Gawai.

Sementara Kepala Sekolah SMPN 18 Makassar Muh Guntur, mengakui hampir 50 persen siswanya masuk kategori kurang mampu sehingga cukup gagap dalam menggelar pembelajaran daring.

Pihaknya telah mengupayakan penunjangan pembelajaran dengan pengadaan gawai melalui dana BOS.

“Itu ada 410 unit dan itu sudah kita bagi ke siswa kurang mampu. Kita juga akan bagi ke guru-guru untuk digunakan,” ujar Guntur. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here