Masuk Kejati, Jaksa Mulai Bentuk Tim Peneliti Berkas Perkasa Pungli Pasar Pabaengbaeng

0
61

MAKASSAR — Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan menunjuk tiga orang jaksa untuk meneliti berkas perkara dugaan Pungutan Liar (Pungli) Pasar Pabaeng-baeng yang telah dilimpahkan penyidik Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel.

“Jaksanya sudah ditunjuk dan ada sekitar tiga orang yang akan diberikan tanggung jawab untuk meneliti berkasnya,” ujar Kepala Seksi Penerangan dan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Sulsel Salahuddin di Makassar, Selasa (29/11/2016).

Dalam kasus dugaan Pungli Pasar Pabaeng-baeng ini, Kepala Pasar Laisa A Manggong dijadikan tersangka setelah tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) menangkapnya beberapa waktu lalu dalam operasi tangkap tangan (OTT).

Salahuddin mengatakan, tim jaksa peneliti yang telah ditunjuk itu diberikan tanggung jawab untuk melakukan penelitian apakah berkas perkara yang telah dilimpahkan itu sudah memenuhi semua persyaratan atau belum.

Ia menyebut, biasanya dalam penelitian kasus seperti itu tim jaksa lebih memeriksa pada syarat formil dan informilnya perkara tersebut dan jika ditemukan adanya kekurangan, maka akan dikembalikan ke penyidik kepolisian untuk dilengkapi.

“Kalau dalam pemberkasan itu masih ada kekurangannya, maka kita akan kembalikan ke penyidik dengan disertai petunjuk-petunjuk dan sebaliknya jika sudah memenuhi semua unsurnya, pasti langsung kita nyatakan lengkap atau P21,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Pasar Pabaeng-baeng Lessa M ditangkap polisi tim Satgas saat Operasi Tangkap Tangan (OTT) Polda Sulsel pada Rabu, 26 Oktober 2016 dan langsung ditetapkan sebagai tersangka.

Kejadian itu terungkap usai tim Unit Tanah dan Bangunan (Tahbang) Ditreskrimum Polda Sulsel melalukukan pemantauan beberapa hari dan mengumpulkan infomasi sehingga penangkapan dilaksanakan pada Rabu malam pukul 19.00 WITA.

Kepala Sub Bidang III tim Tahbang Polda Sulsel AKBP Asep Marsel mengungkapkan Lessa ditangkap tim OTT karena dilaporkan oleh sejumlah pedagang yang mencurigai adanya praktek pungli dan korupsi pada penjualan lods dengan modus harga digelembungkan atau mark up.

“Sebenarnya kami hanya akan melaksanakan operasi Pungli melalui restribusi siluman, namun banyaknya informasi yang masuk serta laporan sejumlah pedagang yang dirugikan oleh tersangka terkait harga lods atau lapak tidak sesuai dengan harga sebenarnya, lalu kami tangkap,” katanya.

Diketahui penjualan lods itu dijual tersangka dengan harga tidak sesuai aturan yang ditetapkan pemerintah kota. Saat itu pihak pasar membangun 30 unit lods di pasar Pabaeng-baeng sebelah Timur dengan harga jual per lods Rp2,25 juta, tetapi belakangan di gelembungkan tersangka sebesar Rp20 juta sampai Rp30 Juta.

Dari pengakuan tersangka, dirinya sudah menyetorkan dana hasil penjualan lods yang telah sebanyak sembilan unit kepada pihak PD Pasar Raya Makassar, namun saat ditelusuri bukti setoran tidak bisa ditunjukkan.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here