Baru Selesai Dikerja, Ehhh… Sudah Rusak Parah, Warga Bontorannu Bulukumba Protes Pembangunan Proyek Jalan Rp 2 M

0
60

BULUKUMBA – Puluhan warga Desa Bontorannu, Kecamatan Bontotiro, Bulukumba turun ke jalan melakukan aksi protes terkait pembangunan jalan laston.

Jalan tersebut disebut-sebut menelan anggaran Rp 2,2 miliar. Warga kesal sebab ini sudah rusak parah, padahal pengerjaannya belum lama ini diselesaikan.

Dengan membentangkan spanduk warga menutup akses jalan yang  menghubungkan poros Desa Bontotiro dan Bontorannu.

“Kami mendesak pemerintah jangan tinggal diam melihat kondisi jalan kami, ini belum apa-apa jalannya sudah terbongkar apalagi kalau musim hujan pasti sudah hancur lagi jalanann.” salah seorang wartga setempat, Samad, Jumat 23 Desember 2016.

Ia mengaku sudah berapa kali mengkomplain pembangunan jalan ini ke Dinas Bina Marga, namun tidak ada realisasi dari pihak terkait.

“Pokoknya kami minta agar pemerintah memberi sanksi. Dan kepada pihak rekanan untuk kembali mengulang pembangunan Jalan Laston ini bukan hanya menambal. karena memang saya lihat kualitas pekerjaan yang tidak beres,kami sangat kecewa,” bebernya.

Bukan hanya Desa Bontorannu yang mengalami kondisi demikian namun sejumlah proyek pembangunan Jalan Laston di Bulukumba hampir mengalami hal yang sama.

Seperti di sepanjang Jalan Sam Ratulang, Jalan Sawerigading dan beberapa jalan laston di desa-desa lain. Kerusakan jalan ini diduga terjadi dikarenakan pihak rekanan yang mengejar waktu pengerjaan yang mepet karena akhir tahun.

Menanggapi banyaknya protes dari masyarakat, Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria mengatakan, terkait dengan kerusakan di beberapa ruas jalan yang baru dibangun pada prinsipnya sudah termonitoring oleh dinas terkait.

“Saya sudah meminta Dinas Bina Marga untuk segera meminta PPK dan PPTK untuk terjun langsung memantau pembangunan infrastruktur dari panjang ruas jalan yang dibangun pada APBD tahun ini namun yang ditemukan tidak lebih dari satu persen yang mengalami kerusakan,” katanya seperti dkutip dari salah satu media online.

Menurutnya, pada mekanisme kontrak rekanan wajib melakukan pemeliharaan pada spot jalan yang mengalami kerusakan.

” Untuk mengantisipasi adanya rekanan yang tidak komitmen, di awal kontrak kan ada berupa jaminan dana 5 persen dan dana retensi 5 persen yang peruntukannya untuk alokasi perbaikan,” ungkapnya.

Mantan legislator Partai Demokrat ini menambahkan hampir seluruh spot yang rusak yang disampaikan oleh rekan-rekan di medsos. Itu ditandai oleh pengawas yang artinya sudah masuk dalam agenda perbaikan.

“Tapi di atas semua itu, masukan dari masyarakat, rekan media adalah bentuk peringatan kepada rekanan dan penanggung jawab kegiatan untuk melakukan pengawasan pada pembangunan yang kita lakukan di Bulukumba,” terang Tomy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here