Sehari Tak Tentu Makan, Tinggal di Gubuk Darurat, Begini Kondisi Keluarga Miskin Ibu Nabila di Desa Buangin, Dusun Rante Bone, Sabbang luwu utara

0
321

LUWU UTARA, CNEWS — Miris yang dialami keluarga kurang mampu, Ibu Nabila yang tinggal bersama anggota keluarganya di sebuah gubuk di Desa Buangin, Dusun Rante Bone, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara.

Di dalam gubuk tempat Ibu Nabila anggota keluarganya ia tinggal.

Dinding gubuk darurat yang telah ditutup beberapa lembar plastik tersebut milik mertuanya yang ia tumpangi.

Gubuk yang ia sudah tempat sekian tahun tersebut menjadi tempatnya berteduh dari air hujan dan terik mentari.

Dari penjelasan Kepala Dusun Rante Bine, keluarga yang tinggal bersama anaknya tersebut terkadang kesehariannya tidak memasak karena tidak mempunyai persediaan beras.

“Keluarga Ibu Nabila terkadang kesehariannya tidak memasak karena kehabisan persedian beras, sehari-hari mereka hanya mengandalkan ubi-ubian sebagai makanan sehari-hari” ujarnya saat mengunjungi rumah Ibu Nabila, bersama Reporter Media Celebesnews pada, Minggu (14/1/2018).

Pantauan Reporter Celebesnews, Samsir, di lapangan tak banyak peralatan rumah tangga yang terdapat di gubuk tersebut.

Hanya terdapat teko dan panci yang tersedia di gubuk dengan pintu penutup rumah seadannya itu.

Lantai gubuk tidak memiliki alas, hanya selembar tikar yang sudah lapuk ibu Nabila bersama anakanya sekaligus menjadi tempat tidur.

Sementara itu, menurut Ibu Nabila, dirinya tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya lantaran tidak mempunyai penghasilan. Hal itu membuat dirinya tidak sanggup membeli beras dan kebutuhan pokok lainnya.

Ibu Nabila kerap memanfaatkan ubi untuk dimakan sehari-hari, guna bertahan hidup. Ia bercerita bahkan pernah dalam sehari ia tidak makan sama sekali, lantaran tidak ada makanan.

“Tidak ada uang, tidak ada orang yang mengasih begitu, ya tidak makan,” ungkapnya.

Ibu Nabila mengaku kadang-kadang ia bisa mendapat uang bila ada warga yang memanggil dirinya untuk bekerja sebagai tenaga serabutan, yang kadang-kadang biasa diupah hanya Rp50.000 per hari. “Saya hanya bisa mendapatkan uang dari hasil kerja bila ada warga yang memanggil, tapi bila tidak ada, kami hanya bisa pasrah,” ujarnya.

Ibu Nabila sendiri, dengan kondisi kehidupan yang penuh kekurangan tersebut, masih memberi kesempatan kepada anaknya untuk sekolah. Itu pun, kata dia, biaya sekolah dikumpulnya dengan rela kadang tidak makan agar anaknya bisa sekolah. ( LAPORAN : SAMSIR )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here