Miris Kondisi Balita Layonga Terbaring Di Rumah Sakit Majene, Butuh Perhatian dan Bantuan

0
91

Balita dari pasangan Muchlis dan Irawati warga lingkungan Layonga Kelurahan Labuang Utara terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Majene. Kondisi pertumbuhan fisiknya yang tidak sesuai dengan berat badan membuat Irawati terpaksa mengikuti saran tim medis dan Lurah Labuang Utara. Meski merasa kuatir dengan biaya rumah sakit yang tidak sedikit, Irawati menuruti saran lurah Labuang Utara untuk membawa putri ke empatnya itu ke bagian perawatan anak RSUD Majene. Ditemui di bagian perawatan anak RSUD Majene, Jumat (6/4) kemarin. Irawati mengaku Nur Hapisah sudah 8 hari berada dalam penanganan dokter.

Laporan : Ahmad Hirman

Kasus dugaan balita mengidap gizi buruk kembali terjadi di Kabupaten Majene. Sebelumnya kasus gizi buruk pernah dialami salah seorang warga di Lingkungan Pacceda Kecamatan Banggae beberapa tahun lalu. Kemarin Jumat (6/4) tim media ini mendapat laporan adanya balita asal lingkungan Layonga Kelurahan Labuang Utara Kecamatan Banggae Timur mendapat perawatan medis di RSUD Majene. Balita yang berat badan tidak seimbang dengan pertumbuhannya itu disinyalir mengidap gizi buruk. Dari hasil kunjungan tim media PKH Majene ini ke bagian perawatan anak RSUD Majene, Nur Hapisah memiliki berat badan 2,2 Kg sejak lahir 5 bulan lalu sampai sekarang.

Menurut salah seorang petugas medis di RSUD Majene, Nurhijriah, berat badan seperti itu dikategorikan tidak normal. Kepada Irawati, diitengarai sejak lahir anak tersebut jarang diperiksa oleh petugas kesehatan setempat. “Apa anaknya sering diperiksa ke Posyandu ya bu,” kata Nurhijriah. Menurut Irawati, dari 4 orang anaknya dua diantaranya mengalami kondisi seperti ini. “Ada kakaknya pernah mengalami kondisi seperti ini, dan sekarang sudah kembali sehat,”ungkapnya. Dia mengaku jika pengalaman lalu terulang kembali untuk anaknya yang ke 4 ini.

Tim media juga mempertanyakan soal kepemilikan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Irawati mengatakan KIS yang dimiliki bersama suaminya Muchlis itu adalah KIS Mandiri. Kepada tim media, Ira mengaku jika selama menjadi peserta KIS Mandiri, iuran yang dibayar setiap bulan sebesar 50 ribu. “Saya punya KIS Mandiri, setiap bulan kami bayar 50 ribu”tuturnya. Sayangnya, ke 4 anaknya tidak dilengkapi dengan KIS Mandiri terkait iuran terbilang tinggi dan tidak mampu untuk didaftarkan di BPJS Kesehatan. “suami saya kerja sebagai tukang batu, jadi untuk membayar iuran sebesar itu kami tidak sanggup,”terangnya.

Irawati menjelaskan KIS Mandiri yang dimiliki itu ketika suaminya sakit dan terpaksa harus dirawat di RSUD Majene. Untuk mendapat pelayanan medis, suaminya harus memiliki kartu BPJS Kesehatan. Pada saat itu, lanjut Irawati, pihaknya mendaftarkan diri agar suaminya bisa mendapat pelayanan medis. Dan selama itulah, Irawati dan suaminya menjadi peserta BPJS Kesehatan Mandiri. Dia menilai jika ke 4 anaknya itu tidak memiliki KIS karena keterbatas kemampuan keuangan. “Kalau anak kami juga harus memiliki KIS Mandiri, berarti dana yang harus disiapkan setiap bulan itu 25 ribu dikali 5 orang berarti sekitar 125 ribu,”paparnya. Sementara sebut Dia, jika pekerjaan sebagai tukang batu itu saja tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari hari.

Lebih jauh dikatakan Irawati, belum lama ini menerima bantuan sosial dari program keluarga harapan. Ira mengakui jika uang yang diterima melalui Bank BNI itu bisa membantu mengurangi beban hidup untuk mengongkosi 2 anaknya yang duduk di bangku sekolah. “Dua anak saya sekolah di SDN 56 Kampung Baru”ungkap Irawati. Sedangkan 1 orang lagi usianya belum cukup untuk bersekolah dan 1 orang anak terakhirnya itulah Nur Hapisah yang sekarang dirawat di RSUD Majene. Dia menuturkan jika kondisi pemulihan kesehatan anaknya itu berjalan lamban, Nurhapisah harus menginap cukup lama di RSUD Majene ini. “Dokter tadi bilang kalau kondisi kesehatannya akan lama untuk bisa normal sehingga dibutuhkan waktu yang cukup untuk bisa pulang ke rumah,”papar Irawati.

Dari hasil koordinasi dengan tim medis bagian perawatan anak, bahwa Nur Hapisah juga diidiagnosa suspect TB sehingga diperlukan perawatan yang khusus dari dokter ahli anak RSUD Majene. Kondisi yang dialami Nur Hapisah bersama 3 orang saudaranya perlu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Daerah Kabupaten Majene. “Untuk kasus gizi buruk, Pemda Majene sudah menyiapkan dana khusus,”tutur salah seorang tim medis di bagian perawatan anak. Selain itu, salah seorang pendamping PKH Kecamatan Banggae Timur, Reskiati mengakui jika pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial untuk menindaklanjuti status KIS Mandiri keluarga Irawati untuk diusulkan mendapat perubahan menjadi KIS Gratis atau ditanggung pemerintah pusat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here