Dewan Dorong Pembinaan PKL di Makassar

0
50

MAKASSAR – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, mendesak agar ada pembinaan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang selama ini menjadi salah satu penunjang objek wisata di Kota Makassar.

Desakan ini muncul menyusul adanya wacana pemerintah menggusur paksa sejumlah lapak PKL yang ada disejumlah tempat wisata.

Anggota Komisi B Bidang Ekonomi dan Keuangan, Mario David menolak rencana Pemkot Makassar untuk melakukan penggusuran paksa terhadap para PKL yang ada di sejumlah objek wisata bersejarah. Pasalnya, para PKL ini menjadi salah satu penunjang dan daya tarik objek wisata bersejarah.

“Memang banyak pertimbangan hal yang perlu kita diskusikan. Memang kan mereka ini sangat menunjang objek wisata yang ada di Benteng Fort Rotterdam,” kata legislator Partai Nasdem ini saat dikonfirmasi mengenai hal ini.

Menurutnya, para PKL yang sehari-hari berdagang es kelapa muda di sekitar Benteng Rotterdam, misalnya, seharusnya diberikan pembinaan untuk memanfaatkan kawasan wisata tersebut sebagai lahan berdagang.

“Para pedagang seharusnya kita berikan pembinaan yang baik,” katanya.

Untuk melaksanakan program tersebut, ia mengatakan segera membangun komunikasi dengan sejumlah pihak, termasuk Pemprov Sulsel yang notabene memiliki wewenang terhadap Benteng Rotterdam.

“Kita berharap nanti ke depan kita mencoba membangun komunikasi dengan Pemprov untuk membina mereka (PKL) sebagai penunjang sarana wisata untuk Benteng Rotterdam,” katanya.

Ia mengungkapkan, para PKL tersebut harus diberi pemahaman berdasarkan UUD Nomor 20 Tahun 2009 tentang Trotoar jalan bahwa semua masyarakat berhak untuk menikmati trotoar yang baik, nyaman dan aman.

“Itu harus mereka pahami karena ada tindakan pidana kalau mereka masih berjualan di atas trotoar. Dendanya kurang lebih Rp24 juta dan kurungan maksimal 1 tahun,” katanya.

Menurutnya, para PKL akan memahami hal itu jika diberikan pembinaan. Maka dari itu, pembinaan kepada PKL di sekitar Benteng Rotterdam hingga Popsa harus diberi pembinaan.

“Mereka tidak boleh di atas trotoar lagi. Karena itu adalah hak pejalan kaki. Mereka kemudian dibina lebih ke dalam, ditata lebih cantik, kebersihannya harus lebih diperhatikan,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here