Pencemaran Lingkungan di Pulau Mori Luwu Timur, PT Vale Akan Bertanggung Jawab

0
66

LUWU TIMUR —- Dugaan pencemaran lingkungan akibat tumpahan sulfur di Pulau Mori, Desa Balantang, Kecamatan Malili, Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel) oleh PT Vale Indonesia masih berlanjut.

Ketua Yayasan Konservasi Cinta Laut Indonesia (YKCLI), Reza mengatakan jika dia punya data terkait tumpukan sulfur di dasar laut.

“Di lokasi loading disitu, sulfur itu banyak sekali berserakan, kalau perlu bawa sekup, banyak sekali,” kata Reza, Jumat (24/9/2021) siang, saat manajamen PT Vale Indonesia menggelar rapat bersama dengan YKCLI serta masyarakat di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Luwu Timur.

Hadir pula Kepala Dinas Lingkungan Hidup Luwu Timur, Andi Tabacina, Kepala Desa Balantang, Musakkir Laiming, Kepala Desa Harapan, Syahbandar, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Luwu Timur.

Dalam rapat tersebut pun terungkap, terjadinya tumpahan sulfur di perairan bukan hanya satu kali terjadi, tapi berulang.

Untuk membuktikan itu, pihaknya sudah mengajak PT Vale Indonesia untuk melihat langsung sulfur di dasar laut. Hanya saja, ajakan tersebut belum diterima oleh pihak PT Vale Indonesia.

Warga pun meminta PT Vale Indonesia untuk bertanggung jawab atas tumpahan sulfur di perairan Luwu Timur.

Diharapkan, kejadian tumpahan sulfur ini tidak lagi terulang kembali karena dikhawatirkan bisa merusak ekosistem laut.

Disisi lain kata Reza, nelayan juga sudah sulit menangkap ikan di perairan Luwu Timur, tidak seperti dulu. Sekarang, banyak nelayan mencari ikan di daerah perairan Sulawesi Tenggara sudah jarang di perairan Luwu Timur.

“Jadi bagaimana tanggung jawab PT Vale menjaga ekosistem laut di Luwu Timur,” tanya dia.

Head Dept of Environment Dept di PT Vale Indonesia, Muh Adli Lubis dalam rapat tersebut mengatakan proses recovery oleh PT Vale pasti ada.

“Kita sebagai PT Vale ini akan coba melihat potensi untuk proses recoverynya seperti apa. Kami tidak akan lepas dari tanggung jawab itu, itu yang saya tekankan,” katanya.

Ia menambahkan proses handling sulfur dua kali dalam setahun. Pasalnya jika tidak ada sulfur, pabrik mati.

“Saya berkomitmen, kalau ini masih terjadi, hentikan, walaupun harus mati ini pabrik, tidak ada sulfur, pabrik mati,”

“Kalau itu masih terjadi, saya akan perintahkan hentikan itu dan saya yakinkan tidak ada kebocoran spil,” ujar dia. (sr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here